Demi Memuliakan Tamu, Pria Ini Pura-Pura Berbuka Puasa. Siapa Sangka, Balasannya


Namanya juga tamu dimana-mana memang harus dimuliakan, meski pada dasarnya orang tersebut tidak kita kenal sekalipun. Dan dalam cerita berikut ada sesuatu yang menarik untuk diketahui dan mungkin kalian bisa mengambil pelajaran dari kejadian semacam ini.

Diceritakan. Suatu ketika, sesaat sebelum waktu Magrib tiba, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Tsabit Al-Anshari, sedang kedatangan tamu di rumahnya. Seorang musafir mampir, namun saat itu sedikit pun tidak ada yang bisa dimakan guna berbuka puasa.

Tsabit pun bingung. Di satu sisi, ia ingat pesan-pesan Nabi tentang kesunnahan memuliakan tamu, tapi di sisi lain kondisi ekonomi yang terbatas benar-benar tengah melanda rumah tangganya.

Setelah mempersilakan tamunya masuk ke rumahnya, Tsabit kemudian berbisik kepada istrinya, "Apakah ada makanan untuk petang ini?"

Sang istri yang juga turut gundah lalu menjawab, "Demi Allah, wahai suamiku. Tidak ada lagi makanan yang kusimpan, terkecuali sedikit."

Tsabit pun terdiam sejenak sambil memutar otak. Akhirnya, ia sampaikan satu siasat kepada sang istri agar mematikan lampu saat waktu berbuka tiba.

"Aku membawa seorang tamu. Jika kami mulai makan, padamkanlah lampu dan berpura-puralah memperbaikinya. Selama perut tamu kita belum kenyang, jangan makan sedikit pun dari makanan itu," bisik Tsabit kepada sang istri dan dibalas anggukan oleh istrinya.

Waktu berbuka puasa pun tiba. Sang tamu kemudian dipersilakan menyantap hidangan yang serba pas-pasan itu. Namun, Tsabit dan istrinya cuma berkecap-kecap seolah turut bersantap, padahal ujung tangan keduanya sama sekali tak menyentuh hidangan.

Keesokan harinya, sang tamu pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Setelah itu, Tsabit kembali menghadiri majelis untuk mendapatkan berkah dan pencerahan dari Nabi.

Ketika keduanya berjumpa, tiba-tiba Rasulullah tersenyum dan bersabda, "Wahai Tsabit, Allah SWT. menghargai pelayananmu terhadap tamumu semalam."

Tsabit pun tersentak. Rasa gembira, malu, sekaligus haru, bercampur di dadanya.

Sumber: Ad Dur al Mantsur fi at Tafsir al Ma'tsur (Jilid 1), karangan Imam Jalaluddin Abdurrahman asy Syuyuti.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Demi Memuliakan Tamu, Pria Ini Pura-Pura Berbuka Puasa. Siapa Sangka, Balasannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel